.

blog-indonesia.comWelcome to Smart Alzind Cerdas Istimewa Bakat Istimewa (CI-BI)

Rabu, 17 Oktober 2012

Mengapa Shalat Kita Sulit Khusuk (1)?


Kamis, 11 Oktober 2012, 10:18 WIB
Subhanallah, kujawab kembali permintaan kalian tentang shalat Khusyuk yang pernah kutulis di rubrik ini beberapa tahun lalu.

shalat kita kadang tidak khusuk karena:

Kita belum mengenal kecuali sebatas Tuhan, belum mengenal Sifat, Af'al dan Asma-Nya, Dia yang menciptakan manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, semua yang kulihat, kudengar, yg bergerak, yang berada dilangit dan dibumi, semua dihidupkan-Nya "Al Muhyi" dan semua akan dimatikan-Nya "Al Mumiitu", semua tunduk dalam kehendak "Al Muriidu" dan kekuasaan-Nya "Al Qodiiru", Dialah yang mengatur semuanya "Ar Robbu", Dialah yang mengusai sekaligus memiliki semuanya "Al Maaliku" (QS3:26-27).

Dia Maha Menatap "Al Bashiiru" tahu persis hati, pikiran dan lintasan pikiran kita & DIA Maha Mendengar "As Samiiu" mendengar gesekan daun, langkah semut dan rintihan hati hamba-Nya, Lantas sadarkah kita bahwa Dia yang segala-galanya yang kita hadapi dalam sholat selama ini?

Bisakah hati dan pikiran kita lari saat sholat, sementara dia menatap hati pikiran kita?

Sahabatku, coba camkan uraian diatas sebelum sholat dimulai, tambah konsentrasi agar kita tetap fokus.
Redaktur: Slamet Riyanto

SUMBER:
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/pojok-arifin-ilham/12/10/11/mbpl6a-mengapa-shalat-kita-sulit-khusuk-1

Minggu, 14 Oktober 2012

TUGAS POKOK KEPALA SEKOLAH


1.    EDUKATOR
A.    MAMPU MEMBIMBING GURU
B.    MAMPU MEMBIMBING KARYAWAN
C.   MAMPU MEMBIMBING SISWA
D.   MAMPU MENGEMBANGKAN STAFF
E.    MAMPU BELAJAR MENGIKUTI PERKEMBANGAN IPTEK
F.    MAMPU MEMBERIKAN CONTOH MENGAJAR YANG BAIK

2.    MANAJER
A.    KEMAMPUAN MENYUSUN PROGRAM SEKOLAH
B.    KEMAMPUAN MENYUSUN ORGANISASI KEPEGAWAIAN  DISEKOLAH
C.   KEMAMPUAN MENGGERAKAN STAFF (GURU + KARYAWAN)
D.   KEMAMPUAN MENGOPTIMALKAN SUMBER DAYA SEKOLAH

3.    ADMINISTRATOR
A. KEMAMPUAN MENGELOLA ADMINISTRASI MADRASAH (KMB / BK)
B.KEMAMPUAN MENGELOLA ADMINISTRASI KESISWAAN
C.KEMAMPUAN MENGELOLA ADMINISTRASI KETENAGAAN
D.KEMAMPUAN MENGELOLA ADMINISTRASI KEUANGAN
E.KEMAMPUAN MENGELOLA ADMINISTRASI SARANA / PRASARANA
F.KEMAMPUAN MENGELOLA ADMINISTRASI PERSURATAN

4.    SUPERVISOR
A.    KEMAMPUAN MENYUSUN PROGRAM SUPERVISI PENDIDIKAN
B.    KEMAMPUAN MELAKSANAKAN SUPERVISI PENDIDIKAN
C.   KEMAMPUAN MEMANFAATKAN HASIL SUPERVISI

5.    LEADER (PEMIMPIN)
A.    MEMILIKI KEPRIBADIAN YANG KUAT
B.    MEMAHAMI KONDISI GURU, KARYAWAN, SISWA
C.   MEMILIKI VISI DAN MEMAHAMI MISI SEKOLAH
D.   MAMPU MENGAMBIL KEPUTUSAN
E.    KEMAMPUAN BERKOMUNIKASI

6.    INOVATOR
A.    KEMAMPUAN MENCARI / MENEMUKAN GAGASAN BARU UNTUK PEMBAHARUAN MADRASAH (PENDIDIKAN)
B.    KEMAMPUAN MELAKUKAN PEMBAHARUAN DI SEKOLAH

7.    MOTIVATOR
A. KEMAMPUAN MENGATUR LINGKUNGAN KERJA (FISIK)
B.KEMAMPUAN MENGATUR LINGKUNGAN KERJA NON FISIK
C.KEMAMPUAN MENETAPKAN PRINSIP PENGHARGAAN / HUKUMAN

Selasa, 09 Oktober 2012

Mendidik dengan Kelembutan


Selasa, 09 Oktober 2012, 23:59 WIB
Oleh: Imam Nur Suharno

Suatu hari, Rasulullah SAW didatangi seorang perempuan yang bernama Sa’idah binti Jazi. Ia membawa anaknya yang baru berumur satu setengah tahun.

Rasul kemudian memangku anak tersebut. Tiba-tiba, si anak kencing (mengompol) di pangkuan Rasulullah SAW. Spontan, sang ibu menarik anaknya dengan kasar.

Seketika itu juga, Rasulullah SAW menasihatinya. “Dengan satu gayung air, bajuku yang terkena najis karena kencing anakmu bisa dibersihkan. Akan tetapi, luka hati anakmu karena renggutanmu dari pangkuanku tidak bisa diobati dengan bergayung-gayung air,” ujar Rasul.

Kisah tersebut memberikan pelajaran (ibrah) berharga kepada kita, para orang tua, dan pendidik bahwa Rasulullah SAW secara tegas melarang melakukan pendekatan dengan kekerasan dalam mendidik anak.

Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda, “Hendaknya kamu bersikap lemah lembut, kasih sayang, dan hindarilah sikap keras dan keji.” (HR Bukhari).

Rasulullah juga telah mencontohkan sikap lemah lembut dalam memperlakukan (mendidik) anak-anak. Sebab, bagi seorang anak, kelembutan dan kasih sayang orang tua (dan guru) merupakan sumber kekuatan yang bisa menggugah perasaannya. Kehangatan yang diberikan akan melahirkan ketenangan, kepercayaan, juga hubungan batin yang kuat antara seorang anak dan orang tuanya atau bahkan gurunya.

Dari As-Saib ibnu Zaid ketika dia masih anak-anak, ia menuturkan, “Aku melihat Rasulullah SAW, aku dan beberapa orang anak lainnya yang sebaya denganku masuk menemuinya. Ternyata, kami jumpai beliau sedang makan buah kurma dari sebuah keranjang bersama dengan beberapa orang sahabatnya. Melihat kedatangan kami yang masih anak-anak, beliau bangkit, lalu memberikan kepada masing-masing dari kami segenggam kurma dari keranjang itu sembari mengusap kepala-kepala kami.” (HR Thabrani).

Yang pasti, Islam tidak mengajarkan pola pendidikan dengan cara kekerasan. Sebaliknya, Islam justru sangat menekankan pola pendidikan yang lemah lembut dan penuh kasih sayang. Bahkan, dalam urusan dakwah pun, setiap dai diperintahkan untuk menyeru umat manusia dengan cara yang lembut, bijaksana, dan memberikan nasihat yang baik. (QS an-Nahl [16]: 125).

“Maka, disebabkan rahmat dari Allahlah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila kamu telah membulatkan tekad, bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya, Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada- Nya.” (QS Ali Imran [3]: 159).

Melalui pendekatan lemah lembut ini, diharapkan dapat membentuk jiwa anak yang siap untuk menerima, merespons, dan melaksanakan setiap panggilan kebaikan dengan penuh ke sa daran, bukan keterpaksaan. Wallahu a’lam.

Redaktur: Chairul Akhmad
Sumber :
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/12/10/09/mbmaln-mendidik-dengan-kelembutan

Selasa, 02 Oktober 2012

KONSULTASI PENDIDIKAN


KENAKALAN ANAK
Assalamu’alaikum Mam,
 
Anak yang sudah dinasehati dengan lembut tanpa suara keras dan kasar malah makin ngelunjak. Gimana caranya supaya anak mengerti apa yang kita ucapkan, dengan bahasa yang seperti apa saya harus menasehati anak yang berusia antara 6 - 12 tahun?
 
Terima kasih atas jawabannya.
 
Desi Purwanti
 
Jawab :

Walaykumsalam warahmatullahi wabarakatuh,

Bu Desy Purwanti yang dilindungi Allah, aamiin.

Bu, baiknya begini saja, ibu lembut, ayah tegas, kalau keduanya lembut juga bagus juga, walau memang anak akan ngelunjak, cuma memang anak harus dikenalkan dengan baik dan buruk, basirah wa nadzhirah, artinya (surga neraka). Bukankah Islam mengajarkan bahwa ada surga ada neraka, ada baik ada buruk, tidak baik saja atau surga saja, bahkan dalam hal ini, bila surga sangat indah bila neraka sangat panas, maka sebaiknya ibu dan ayah bermain peran saja, bila ibu lembut ayah tegas, atau kalau dalam hal ini ayah kurang berperan, maka ibu yang terpaksa ambil peran.

Panggil anak-anak ibu, dan suruh duduk, ibu pasang wajah serius, dan katakan ibu serius, ibu tidak mau marah pada kalian, namun kalau terpaksa ibu bisa marah juga, sekarang mulai hari ini dirumah ini ada peraturan : 
Misalnya 1 masuk kamar ibu harus ketuk pintu, 2…3 dan seterusnya. Ibu buatlah peraturan yang ibu inginkan agar diterapkan kepada anak-anak, dan katakan bila seminggu ini berjalan baik, maka akhir minggu ibu kasih hadiah, namun bila ada yang melanggar ibu akan marah. Saya setuju juga ada marah dalam pendidikan anak, agar mereka tahu, marah itu seperti apa dan mereka melihat dunia itu berwarna tidak baik-baik dan indah-indah saja.

Wassalam.
Mam Fifi


Eramuslim.com