.

blog-indonesia.comWelcome to Smart Alzind Cerdas Istimewa Bakat Istimewa (CI-BI)

Jumat, 22 Juni 2012

MENCETAK GURU BERKUALITAS: TANTANGAN DUNIA PENDIDIKAN By Satria Dharma

Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Fuad Hassan ketika dimintai pendapatnya tentang perkembangan pendidikan Indonesia pernah berkata. “Jangan terlalu ribut soal kurikulum dan sistemnya. Itu semua bukan apa-apa, justru pelaku-pelakunya itulah yang lebih penting diperhatikan,” Sebagai mantan Mentri Pendidikan beliau tentu sadar betul bahwa kualitas gurulah yang justru menjadi permasalahan pokok pendidikan dimana pun. Baik itu di Indonesia, di Jepang, Finlandia, di AS, di manapun di dunia ini kualitas pendidikan ditentukan oleh kualitas gurunya, bukan oleh besarnya dana pendidikan dan juga bukan oleh hebatnya fasilitas. Jika guru berkualitas baik maka baik pula kualitas pendidikannya.
Contohnya adalah Finlandia, negara dengan kualitas pendidikan terbaik di dunia, yang dengan serius menjaga kualitas gurunya.
Guru-guru Finlandia boleh dikata adalah guru-guru dengan kualitas terbaik dengan pelatihan terbaik pula. Profesi guru sendiri adalah profesi yang sangat dihargai, meski gaji mereka tidaklah fantastis. Lulusan sekolah menengah terbaik biasanya justru mendaftar untuk dapat masuk di sekolah-sekolah pendidikan dan hanya 1 dari 7 pelamar yang bisa diterima, lebih ketat persaingainnya ketimbang masuk ke fakultas bergengsi lainnya seperti fakultas hukum dan kedokteran! Bandingkan dengan Indonesia yang guru-gurunya dipasok oleh siswa dengan kualitas seadanya dan dididik oleh perguruan tinggi dengan kualitas seadanya pula.
Dengan kualitas mahasiswa yang baik dan pendidikan dan pelatihan guru yang berkualitas tinggi tak salah jika kemudian mereka dapat menjadi guru-guru dengan kualitas yang tinggi pula. Dengan kompetensi tersebut mereka dengan mudah menggunakan metode kelas apapun yang mereka suka, dengan kurikulum yang mereka rancang sendiri, dan buku teks yang mereka pilih sendiri. Tak ada permasalahan dengan kurikulum apa pun yang mereka inginkan. Dengan koki yang hebat bahan makanan seadanya bisa menjadi masakan yang enak dan menarik sedangkan orang yang tidak bisa memasak hanya akan merusak bahan makanan yang sebaik apa pun.
Celakanya, meski kita tahu benar fakta dan kenyataan tersebut tapi sampai saat ini belum ada usaha terobosan dari Depdiknas untuk mengubah input kualitas mahasiswa yang akan menjadi guru kelak dan sekaligus mengubah sistem pendidikan dan pelatihan guru yang ada di LPTK-LPTK yang ada. Belum ada upaya terobosan untuk menarik siswa-siswa lulusan terbaik untuk masuk ke lembaga pendidikan tenaga keguruan dan belum ada upaya brilian untuk mengubah LPTK yang ada menjadi lembaga yang benar-benar mumpuni untuk mencetak guru-guru terbaik. Bahkan memanfaatkan perguruan tinggi terbaik di Indonesia agar dapat menjadi pemasok tenaga guru saja tidak. Padahal mencetak guru-guru berkualitas prima adalah tantangan dunia pendidikan sepanjang masa tapi pemerintah belum serius melakukan usaha menuju kesana. Sebetulnya semua mentri pendidikan sadar belaka mengenai hal ini tapi tetap tak ada satu pun upaya untuk menjadikan LPTK sebagai lembaga bergengsi dimana hanya ’best brains’ yang bisa masuk ke sana dan hanya dosen-dosen terbaik dengan fasilitas terbaik pula yang akan mendidik mereka agar mampu menjadi ’best teachers’.
Finlandia jelas telah melakukan ini dan mereka telah memetik hasilnya.
Malaysia juga telah melakukan hal yang sama dengan program ‘five-year degree programme “tailor-made” for top sijil Pelajaran Malaysia” dimana pemerintah Malaysia menjanjikan para lulusan sekolah menengah terbaik untuk memperoleh pendidikan di luar negeri jika mereka ingin menjadi guru Matematika dan Sains kelak. Dengan program ini mereka akan menjaring 500 lulusan terbaik untuk dikirim ke Australia dan Inggris dalam lima tahun ini. Sebelum dikirim ke luar negeri mereka akan digembleng dulu dalam program Foundation selama setahun di perti lokal terpilih di seluruh negeri dan diikuti dengan program preparatory selama dua tahun di univ. terkemuka sebelum mereka diberangkatkan ke luar negeri selama dua tahun untuk menyelesaikan master mereka. Dirjen Pendidikan Malaysia Tan Sri Abdul Rafie menyatakan bahwa angkatan pertama dari program ini menunjukkan hasil yang sangat baik. Mereka dipilih dari siswa-siswa yang memiliki nilai ujian dengan 7 dan 8 angka A. “We want only the best brains in the profession”, demikian katanya.
Ini artinya bahwa negara-negara lain sangat serius memperhatikan kualitas pendidikannya dan tidak sekedar berretorika.
Saat ini sangat banyak program beasiswa ditawarkan oleh berbagai lembaga dan industri tapi tak satu pun yang mencoba menawarkan beasiswa bagi lulusan terbaik untuk menjadi guru. Dunia pendidikan belum dianggap penting sehingga dianggap belum perlu mendapat tenaga kerja dari siswa-siswa terbaik.
Saat ini di AS telah dirasakan kebutuhan untuk memperoleh ’best brains’ bagi profesi guru dan berbagai upaya telah dilakukan oleh berbagai institusi. Melalui program Rhodes Scholarships yang prestisius, the Woodrow Wilson National Fellowship Foundation di Princeton menelorkan program yang diharap akan dapat menarik siswa-siswa terbaik untuk mau menjadi guru yang pada akhirnya akan dapat mentransformasi pendidikan guru di AS.
“Research shows that providing excellent teachers is the single most important way to improve student achievement,” kata Arthur E. Levine, president yayasan tersebut. “But the quality of our teaching force today is not as strong as it needs to be, and our teacher preparation programs are too weak. We hope this program will produce significant improvement in both and provide models that the rest of the country will follow.”
Itu bukan satu-satunya upaya. Program lain seperti “Teach for America” dan ”The New York City Teaching Fellow”, juga telah melakukan hal yang sama dengan cara merekrut berbagai kandidat dari berbagai profesi untuk dilatih menjadi guru-guru berkualitas dengan program fellowships dan pelatihan keguruan selama 200 jam.
Perguruan tinggi mana saja yang dilibatkan untuk mencetak guru-guru hebat ini? Woodrow Wilson program menawarkan 33 national Leonore Annenberg Teaching Fellowships pertahun, dengan beasiswa sebesar $30,000 per siswa/tahun untuk mengikuti ‘graduate education programs’ di Stanford, University of Pennsylvania, University of Virginia dan University of Washington.
Melalui program integratif antara lembaga pencetak tenaga keguruan, sekolah tempat magang, dan tiga tahun program mentoring setelah lulus diharapkan akan memberi warna yang berbeda pada tenaga keguruan di AS nantinya. “If they did all those things, we would have a radically different brand of teacher education,” kata Dr. Levine.
Apa yang bisa kita lakukan? Kita tinggal meniru mereka agar kita juga bisa mencetak guru-guru hebat dan bukannya guru-guru yang tidak kompeten seperti sekarang. Dirjen Dikti semestinya harus proaktif untuk mengajak lembaga dan industri untuk turut berpikir dan bekerja untuk mencetak para guru hebat ini demi menyelamatkan bangsa melalui pendidikan yang berkualitas. Tunggu apa lagi…?!


Pendidikan dan Pelatihan Pengembangan Profesi Guru (Peningkatan Kompetensi Diri)


Dalam hal pembenahan pendidikan di Indonesia ada beberapa cara yang bisa menumbuhkan kembali pendidikan di Indonesia. Maka dari itu kita harus berani mengambil sikap dan tentunya kembali pada karakter yang harus dimiliki oleh setiap guru.
Berikut adalah hasil yang diperoleh dalam mengikuti seminar sehari di Malang di Gedung alumni Widyaloka.
Pendidikan dan Pelatihan Pengembangan Profesi Guru (Peningkatan Kompetensi Diri)
Sesi I “Prof. Effendy”
Peningkatan Kualitas Pendidikan Melalui Program Sekolah Bertaraf Internasional (SBI)
Sekolah bertaraf internasional adalah sekolah yang memenuhi seluruh standar nasional pendidikan serta mempunyai keunggulan yang merujuk pada standar pendidikan salah satu negara anggota Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) dan/atau negara maju lainnya yang mempunyai keunggulan tertentu dalam bidang pendidikan sehingga memiliki daya saing di forum internasional.
SBI (Sekolah Bertaraf Internasional) dalam Peta Persekolahan
1. SMA Nasional >> Kurikulum Indonesia. Siswanya adalah warga negara indonesia.
2. SMA Asing >> Kurikulum Asing. Siswanya adalah warga negara asing yang berada di Indonesia.
3. SMA Franchise >> Kurikulum Asing ada tambahan mata pelajaran Pokok yaitu: Agama, B. Indonesia, dan PKN. Siswanya adalah warga negara asing dan boleh di ikuti oleh warga negara Indonesia.
Program peningkatan mutu SMA menuju sekolah bertaraf internasional (SBI) dilandasi oleh beberapa hal:
1. Dalam perkembangan pendidikan di Indonesia minimal nantinya ada salah satu sekolah dalam setiap kabupaten yang menerapkan SBI (Sekolah Bertaraf Internasional).
2. Tuntutan angkatan kerja yang mampu berkompetisi dalam tingkat Internasional dan global.
3. Keberadaan peserta didik Indonesia yang kuliah di luar negeri cenderung meningkat jumlahnya.
4. Persaingan global.
5. Pencegahan erosi identitas nasional.
Tujuan Khusus
1. Mengembangkan sekolah dengan menghasilkan kompetensi lulusan yang berdaya saing pada tingkat Internasional dengan karakter khusus
2. Meningkatnya keimanan dan ketaqwaan, berakhlak mulia
3. Meningkatnya kesehatan jasmani dan rohani
4. Meningkatnya mutu lulusan berstandar lebih tinggi daripada standar kompetensi lulusan nasional
5. Menignkatnya penguasaan illmu pengetahuan dan teknologi
6. Menguatnya motivasi belajar mandiri, berpikir kritis, kreatif, dan inovatif
7. Meningkatnuya kemampuan peserta didik dalam memecahkan masalah secara efektif
8. Meningkatnya kecintaan pada persatuan dan kesatuan bangsa
9. Meningkatnya penguasaan bahasa indonesia dengan baik dan benar
10. Menguatnya kejujuran, obyektivitas, dan tanggung jawab
11. Meningkatnya kemampuan komunikasi dalam bahasa inggris atau bahasa asing lainnya secara efektif
Untuk menjadi sekolah yang memiliki taraf Internasional:
1. Tidak harus menggunakan Bahasa Inggris, melainkan misalnya guru kimia yang mampu berbahasa Jerman maka ia bisa mengajar dengan menggunakan pengantar bahasa jeman secara efektif.
2. Penggunaan bahasa inggris dalam kegiatan belajar mengajar untuk setiap guru dengan tingkatan
a. Menggunakan Bahasa Inggris 20%, Bahasa Indonesia 80%, tingkatan rendah
b. Menggunakan Bahasa Inggris 50%, Bahasa Indonesia 50%, tingkatan sedang
c. Menggunakan Bahasa Inggris 100%, tingkatan tinggi
Pengembangan SDM
1. Kursus Bahasa Inggris.
2. Kuliah S2 pada bidang yang paralel. Artinya harus sesuai dengan tingkatan bidang keilmuannya.
3. In House Training dibawah bimbingan fasilitator bidang studi yang kompeten Lulusan Luar Negeri.
4. Pertukaran guru dengan guru sekolah lain/mitra di dalam dan di luar negeri.
5. Magang di luar negeri.
Pengembangan SDM diarahkan untuk mencapai kondisi berikut:
1. Semua guru mempunyai kualifikasi akademik S1, minimal 30% berkualifikasi S2/S3 dari perguruan tinggi yang program studinya berakreditasi “A”.
2. Memiliki sertifikasi profesi pendidik sesuai jenjang satuan pendidikan tempat tugasnya (nasional dan internasional).
3. Memiliki kesanggupan untuk mengembangkan potensi diri secara berkelanjutan.
4. Memiliki kinerja tinggi baik secara individual mamupun dalam kelompok.
5. Mampu menggunakan media/sumber belajar berbasis TIK dalam pembelajaran.
6. Mampu melaksanakan pembelajaran dalam bahasa inggris secara efektif (toefl > 500).
Mengingat guru yang ada saat ini adalah tidak diproduksi untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan menggunakan bahasa asing maka dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran sebaiknya guru:
1. Menggunakan power point atau media pembelajaran yang lain, yang bisa memudahkan siswa untuk memahaminya.
2. Guru diharapkan sebanyak mungkin belajar pronunciation dari peserta didik karena fakta menunjukkan bahwa banyak peserta didik yang memiliki kemampuan pronunciation lebih baik dari gurunya.
3. Setiap memulai pelajaran guru harus memberikan introduction selama 5 sampai 10 menit. Hal ini penting untuk meningkatkan kemampuan guru dalam komunikasi lisan dan untuk meningkatkan rasa percaya diri guru.
4. Guru seoptimal mungkin menggunakan bahasa Inggris dalam berkomunikasi dengan peserta didik menskipun dalam keadaan terpaksa, namun penggunakaan bahasa Indonesia tidak diharamkan. Disamping itu harus ada perjanjian dengan peserta didik bahwa dengan berlangsungnya waktu frekuensi penggunaan bahasa Inggris harus semakin ditingkatkan.
5. Pada semester pertama tahun pertama sebaiknya guru tidak dipaksa untuk menyelesaikan semua topik yang harus diajarkan pada semester itu karena mereka dan semua peserta didik perlu adaptasi terhadap program yang baru.
6. Program SBI, minimal ulangan 3 kali dalam satu semester dengan soal yang mudah dan sedang. Maksudnya agar siswa mendapat nilai yang bagus sehingga motivasi yang tumbuh dalam diri siswa semakin berkembang.
Pengembangan Evaluasi
Evaluasi dalam setiap kegiatan harus dikembangkan dalam Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia. Diharapkan semua guru dan pembina mampu menulis dan berbicara yang berbobot.
Sesi II “Prof. Moeljadi”
Peningkatan Mutu Pembelajaran dan Pengembangan Profesi Guru
Pengubahan dari “Teacher Learning Center menjadi Student Learning Center”
pembelajaran terpusat pada guru menjadi pembelajaran terpusat pada siswa. Artinya kita lebih menitikberatkan pada siswa untuk lebih banyak belajar dan guru sebagai pendampingnya.
Tentunya dari pengubahan tersebut tidak lepas dari:
1. Peningkatan Mutu Pendidikan
2. Peningkatan Mutu Pembelajaran
3. Peningkatan Mutu Profesionalitas Guru
Bagaimana meningkatakan Mutu Pendidikan, Pembelajaran, dan Profesionalitas Guru?
1. Kepemimpinan: Kepala Sekolah harus memiliki dan memahami visi kerja secara jelas, mampu dan mau bekerja keras, mempunyai dorongan kerja yang tinggi, tekun dalam bekerja memberikan layanan yang optimal dan disiplin kerja yang kuat.
2. Siswa: Pembelajaran yang terpusat pada siswa (siswa lebih aktif dan kreatif) sehingga seluruh kompetensi dan kemampuan siswa dapat digali.
3. Guru: Keterlibatan guru harus secara maksimal, dengan meningkatkan kompetensi dan profesi kerja guru dalam kegiatan ilmiah, seperti seminat, lokakarya, pelatihan atau kegiatan lain yang dapat mendukung peningkatan profesi guru.
4. Sistem / Kurikulum: Sistem dan Kurikulum yang dinamis, berkembang, yang dapat memungkinkan dan memudahkan standar mutu dicapai, sehingga target-target yang tertuang dalam tujuan dapat tercapai.
5. Jaringan / Kerjasama: Jaringan kerjasama harus ditingkatkan tidak hanya di lingkungan sekolah, dan orang tua siswa saja, melainkan juga perlu diperluas dengan organisasi/ instansi di luar sekolah, seperti perusahaan-perusahaan, lembaga TKI (Tenaga Kerja Indonesia), di dalam dan di luar negeri.
Apa saja yang terkait mengenai peningkatan Mutu Pembelajaran?
1. Sistem pembelajaran dan kurikulum yang menunjang dan memenuhi dalam menciptakan kompetensi
2. Fasilitas dan buku yang disiapkan dalam pengembangan mutu pembelajaran
3. Guru melaksanakan proses pembelajaran dengan fun, murid tidak terasa terkekang, senang terhadap mata pelajarannya, tumbuh rasa ingin bertanya.
4. Perlu lebih meningkatkan volume pembelajaran konstruktivisme dalam pembelajaran kelas. Artinya pembelajaran yang bisa membangun siswa untuk lebih kreatif lagi.
5. Dalam kegiatan belajar mengajar, pengajar memiliki peran yang dominan, lebih mendorong dalam pembelajaran yang aktif.
6. Guru memberikan pengajaran pada siswa yang terarah.
7. Perlu alokasi dana yang memadai dalam meningkatkan kualitas mutu pendidikan. Bukan hanya untuk kepentingan teknis saja melainkan juga untuk tenaga pembinanya.
8. Meningkatkan partisipasi anggota masyarakat dan pemerintah daerah untuk ikut serta dalam menangani penuntasan wajib belajar.
Sesi III “Prof. Bambang”
Kompetensi dan Sertifikasi Guru Menuju Peningkatan Kinerja Profesi Guru
Yang utama dalam peningkatan kinerja profesi guru adalah
1. Refleksi dan Tindakan “to reflect and to act” Artinya adalah kita harus mampu melihat diri kita terlebih dahulu dan apa yang sudah kita lakukan untuk pembelajaran.
2. Attitude pada setiap individu yang masih kurang di Indonesia.
Rendahnya profesionalitas guru di Indonesia dapat dilihat dari kelayakan guru mengajar. Menurut Balitbang Depdiknas, guru-guru yang layak mengajar untuk:
1. tingkat SD baik negeri maupun swasta hanya 28,94%
2. Guru SMP negeri 54,12%, swasta 60,99%
3. Guru SMA negeri 65,29%, swasta 64,73%
4. Guru SMK negeri 55,91%, swasta 58,26%
Data dari Direktorat Tenaga Kependidikan Dikdasmen Depdiknas pada tahun 2004 menunjukkan terdapat 991.243 (45,96%) guru SD, SMP, dan SMA yang tidak memenuhi kualifikasi pendidikan minimal.
Gambaran pemenuhan kualifikasi pendidikan minimal guru di Indonesia sebagai berikut:
o Guru TK yang tidak memenuhi kualifikasi pendidikan minimal sebesar 119.470 (78,1%) dengan sebagian besar 32.510 orang berijazah SLTA.
o Di tingkat SD, guru yang tidak memenuhi kualifikasi pendidikan minimal sebesar 391.507 (34%) yang meliputi sebanyak 378.740 orang berijazah SMA dan sebanyak 12.767 orang berijazah D1.
o Di tingkat SMP, jumlah guru yang tidak memenuhi kualifikasi pendidikan minimal sebesar 317.112 (71,2%) yang terdiri atas 130.753 orang berijazah D1 dan 82.788 orang berijazah D2.
o Begitu juga di tingkat SMA, terdapat 87.133 (46,6%) guru yang belum memiliki kualifikasi pendidikan minimal, yakni sebanyak 164 orang berijazah D1, 15.589 orang berijazah D2, dan 71.380 orang berijazah D3.
Bagaimana Penyelenggaraan Sertifikasi Guru?
Penilaian portofolio dilakukan melalui penilaian terhadap kumpulan dokumen yang mencerminkan kompetensi guru. Komponen penilaian portofolio mencakup:
(1) kualifikasi akademik
(2) pendidikan dan pelatihan
(3) pengalaman mengajar
(4) perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran
(5) penilaian dari atasan dan pengawas
(6) prestasi akademik
(7) karya pengembangan profesi
(8) keikutsertaan dalam forum ilmiah
(9) pengalaman organisasi di bidang kependidikan dan sosial
(10) penghargaan yang relevan dengan bidang pendidikan
http://goblogmedia.net/2009/08/26/pendidikan-dan-pelatihan-pengembangan-profesi-guru-peningkatan-kompetensi-diri/

Kamis, 21 Juni 2012

Pelatihan Guru Untuk Pengembangan Profesi by Akhmad Sudrajat


A.Pelatihan untuk Perubahan
Kegiatan pelatihan bagi guru pada dasarnya merupakan suatu bagian yang integral dari manajemen dalam bidang ketenagaan di sekolah dan merupakan upaya untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilan guru sehingga pada gilirannya diharapkan para guru dapat memperoleh keunggulan kompetitif dan dapat memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya. Dengan kata lain, mereka dapat bekerja secara lebih produktif dan mampu meningkatkan kualitas kinerjanya. Alan Cowling & Phillips James (1996:110) memberikan rumusan pelatihan sebagai: “perkembangan sikap/pengetahuan/keterampilan pola kelakuan yang sistematis yang dituntut oleh seorang karyawan (baca : guru) untuk melakukan tugas atau pekerjaan dengan memadai”
Dengan meminjam pemikiran Sondang Siagian (1997:183-185) ,di bawah ini akan dikemukakan tentang manfaat penyelenggaraan program pelatihan, baik untuk sekolah maupun guru itu sendiri.
Bagi sekolah setidaknya terdapat tujuh manfaat yang dapat dipetik, yaitu: (1) peningkatan produktivitas kerja sekolah sebagai keseluruhan; (2) terwujudnya hubungan yang serasi antara atasan dan bawahan; (3) terjadinya proses pengambilan keputusan yang lebih cepat dan tepat; (4) meningkatkan semangat kerja seluruh tenaga kerja dalam prganisasi dengan komitmen organisasional yang lebih tinggi; (5) mendorong sikap keterbukaan manajemen melalui penerapan gaya manajerial yang partisipatif; (6) memperlancar jalannya komunikasi yang efektif; dan (7) penyelesaian konflik secara fungsional.
Sedangkan manfaat pelatihan bagi guru, diantaranya : (1) membantu para guru membuat keputusan dengan lebih baik; (2) meningkatkan kemampuan para guru menyelesaikan berbagai masalah yang dihadapinya; (3) terjadinya internalisasi dan operasionalisasi faktor-faktor motivasional; (4) timbulnya dorongan dalam diri guru untuk terus meningkatkan kemampuan kerjanya; (5) peningkatan kemampuan guru untuk mengatasi stress, frustasi dan konflik yang pada gilirannya memperbesar rasa percaya pada diri sendiri; (6) tersedianya informasi tentang berbagai program yang dapat dimanfaatkan oleh para guru dalam rangka pertumbuhan masing-masing secara teknikal dan intelektual; (7) meningkatkan kepuasan kerja; (8) semakin besarnya pengakuan atas kemampuan seseorang; (9) makin besarnya tekad guru untuk lebih mandiri; dan (10) mengurangi ketakutan menghadapi tugas-tugas baru di masa depan.
Selanjutnya, pada bagian lain Alan Cowling & Phillips James (1996:110) mengemukakan pula tentang apa yang disebut learning orgazanizaton atau organisasi yang mau belajar. Dalam hal ini organisasi diperlakukan sebagai sistem (suatu konsep yang akrab disebut systems theory) yang perlu menanggapi lingkungannya agar tetap hidup dan makmur. Menurut pandangan ini, sebuah organisasi akan mengembangkan suatu kemampuan untuk menanggapi perubahan-perubahan di dalam lingkungannya, yang memastikan bahwa trasformasi internal terus-menerus terjadi.
Dengan demikian, suatu organisasi atau sekolah yang mau belajar dapat dikatakan sebagai suatu organisasi yang memberikan kemudahan kepada anggotanya untuk melakukan proses belajar dan terus-menerus mengubah dirinya sendiri. Salah satu wujud sekolah sebagai learning organization adalah adanya kemauan belajar dari para guru untuk senantiasa meningkatkan kemampuannya, dan salah satunya melalui kegiatan pelatihan. Dengan demikian, upaya belajar tidak hanya terjadi pada kalangan siswa semata.
B. Langkah-Langkah Pelatihan
Agar kegiatan pelatihan yang diselenggarakan oleh suatu sekolah benar-benar dapat memberikan manfaat bagi kemajuan guru maupun bagi organisasi itu sendiri, maka perlu ditempuh beberapa langkah dalam suatu kegiatan pelatihan.
Alan Cowling & Phillips James (1996:110) mengemukakan tentang pendekatan yang sistematis dalam pelatihan meliputi empat tahap, yang mencakup : tahap I: mengenali kebutuhan-kebutuhaan, tahap II: merencanakan untuk memenuhi kebutuhan – kebutuhan itu, tahap III: Pelaksanaan dan Tahap IV: evaluasi.
Sementara itu, Sondang Siagian (1997:185-203) memaparkan tujuh langkah dalam kegiatan pelatihan, yaitu : (1) Penentuan kebutuhan; (2) Penentuan sasaran; Penetapan Program; (3) Identifikasi isi program; (4) Identifikasi prinsip-prinsip belajar; (5) Pelaksanaan program; (6) Identifikasi manfaat; dan (7) Penilaian pelaksanaan program.
Dengan mengacu kepada kedua pemikiran di atas, berikut ini akan diuraikan tentang tahapan-tahapan dalam kegiatan pelatihan, yang mencakup: (1) penentuan kebutuhan; (2) penentuan sasaran; (3) penentuan program; (4) penerapan prinsip-prinsip belajar; dan (5) penilaian kegiatan
1. Penentuan Kebutuhan
Penentuan kebutuhan merupakan langkah awal yang amat penting untuk dilakukan . Oleh karena itu perlu dilakukan analisis kebutuhan secara cermat. Dengan melalui analisis kebutuhan yang cermat dapat diyakinkan bahwa kegiatan pelatihan memang benar-benar perlu dilakukan, jadi tidak hanya sekedar proyek yang sifatnya diada-adakan, tanpa hasil dan tujuan yang jelas. Dalam mengidentifikasi kebutuhan akan pelatihan, terdapat tiga pihak yang perlu dilibatkan, yaitu :
  1. satuan organisasi (sekolah atau dinas pendidikan) yang mengelola sumber daya manusia yang bertugas mengidentifikasi kebutuhan organisasi secara keseluruhan, baik untuk kepentingan sekarang maupun dalam kerangka mempersiapkan organisasi menghadapi tantangan masa depan;
  2. para kepala sekolah; karena bagaimanapun mereka merupakan orang-orang yang paling bertanggung jawab atas keberhasilan atau kegagalan satuan-satuan kerja yang dipimpinnya. Dengan demikian, mereka dianggap sebagai orang yang paling mengetahui jenis kebutuhan pelatihan yang diperlukan.
  3. guru yang bersangkutan; banyak sekolah yang memberikan kesempatan kepada para gurunya untuk mencalonkan diri sendiri mengikuti program pelatihan tertentu. Titik tolak pemberian kesempatan ini ialah bahwa para guru yang sudah matang secara intelektual memiliki kecenderungan untuk menyadari kelemahan-kelemahan yang masih terdapat dalam dirinya, sehingga membutuhkan adanya usaha pembelajaran.
Bagaimanapun kegiatan pelatihan merupakan beban anggaran tersendiri yang harus dipikul oleh sekolah. Oleh karena itu, jika kegiatan pelatihan dilakukan tanpa adanya analisis kebutuhan secara cermat, pada akhirnya dikhawatirkan tidak akan memberikan manfaat apa pun bagi guru atau pun bagi sekolah. Dengan sendirinya, yang semula pelatihan dimaksudkan untuk kepentingan efektifvitas dan efisiensi, malah terbalik menjadi kegiatan yang hanya pemborosan saja.
2. Penentuan Sasaran
Berdasarkan analisis kebutuhan selanjutnya dapat ditetapkan berbagai sasaran yang ingin dicapai dari suatu kegiatan pelatihan, baik yang bersifat teknikal maupun behavioral. Bagi penyelenggara, penentuan sasaran ini memiliki arti penting sebagai: (1) tolok ukur kelak untuk menentukan berhasil tidaknya program pelatihan; (2) bahan dalam usaha menentukan langkah selanjutnya, seperti menentukan isi program dan metode pelatihan yang sesuai.
Sedangkan bagi peserta penentuan sasaran bermanfaat dalam persiapan dan usaha apa yang seyogyanya mereka lakukan agar dapat memperoleh manfaat yang sebesar-besarnya dari kegiatan pelatihan yang diikutinya.
3. Penentuan Program
Setelah dilakukan analisis kebutuhan dan ditetapkan sasaran yang ingin dicapai, selanjutnya dapat ditetapkan program pelatihan. Dalam penentuan program terdapat beberapa aspek yang perlu diperhatikan yakni berkenaan dengan jawaban dari beberapa pertanyaan berikut:
  • Kemampuan apa yang hendak dicapai?
  • Materi apa yang perlu disiapkan?
  • Kapan waktu yang terbaik untuk dilaksanakan pelatihan?
  • Dimana tempat yang paling memungkinkan untuk dilaksanakan pelatihan?
  • Berapa biaya yang dibutuhkan untuk pelaksanaan pelatihan?
  • Siapa yang paling tepat untuk ditunjuk sebagai instruktur?,  dan
  • Bagaimana pelatihan itu sebaiknya dilaksanakan?
Jawaban pertanyaan-pertanyan ini pada intinya merujuk kepada efektivias dan efisiensi kegiatan pelatihan yang akan dilaksanakan.
4. Penerapan Prinsip-Prinsip Belajar
Agar pelatihan ini dapat mencapai sasaran atau tujuan yang diharapkan, maka kegiatan pelatihan berlangsung seyogyanya dapat memperhatikan dan menerapkan sejumlah prinsip belajar. Dalam hal ini Nasution (Daeng Sudirwo,2002) mengetengahkan tiga belas prinsip dalam belajar, yakni :
  1. Agar-agar seorang benar-benar belajar, ia harus mempunyai suatu tujuan.
  2. Tujuan itu harus timbul dari atau berhubungan dengan kebutuhan hidupnya dan bukan karena dipaksakan oleh orang lain.
  3. Orang itu harus bersedia mengalami bermacam-macam kesulitan dan berusaha dengan tekun untuk mencapai tujuan yang berharga baginya.
  4. Belajar itu harus terbukti dari perubahan kelakuannya.
  5. Selain tujuan pokok yang hendak dicapai, diperolehnya pula hasil sambilan. Misalnya tidak hanya bertambah keterampilan pekerjaannya saja, tetapi juga memperoleh minat yang lebih besar dalam bidang yang ditekuninya.
  6. Belajar lebih berhasil dengan jalan berbuat atau melakukan.
  7. Seseorang belajar sebagai keseluruhan, tidak hanya aspek intelektual namun termasuk pula aspek emosional, sosial, etis dan sebagainya.
  8. Seseorang memerlukan bantuan dan bimbingan dari orang lain.
  9. Untuk belajar diperlukan insight. Apa yang dipelajari harus benar-benar dipahami. Belajar bukan sekedar menghafal fakta lepas secara verbalistis.
  10. Disamping mengejar tujuan belajar yang sebenarnya, seseorang sering mengejar tujuan-tujuan lain. Misalnya, disamping memperoleh keterampilan dari apa yang diberikan dalam pelatihan. Juga, seseorang memiliki tujuan lain, seperti promosi jabatan, kepercayaan dari atasan dan sebagainya.
  11. Belajar lebih berhasil, apabila usaha itu memberi sukses yang menyenangkan.
  12. Ulangan dan latihan perlu akan tetapi harus didahului oleh pemahaman.
  13. Belajar hanya mungkin kalau ada kemauan dan hasrat untuk belajar.
5. Penilaian Pelaksanaan Program
Pelaksanaan suatu program dapat dikatakan berhasil jika dalam diri peserta tersebut terjadi suatu proses transformasi. Proses transformasi dapat dinyatakan berlangsung dengan baik apabila terjadi paling sedikit dua hal, yaitu :
  1. peningkatan kemampuan dalam melaksanakan tugas
  2. perubahan perilaku yang tercermin pada sikap, disiplin, dan etos kerja.
Untuk mengetahui terjadi tidaknya perubahan tersebut dilakukan penilaian, baik yang berkenaan dengan aspek teknis maupun behavioral. Dengan demikian, bahwa penilaian harus diselenggarakan secara sistematis, dengan-langkah sebagai berikut:
  1. penentuan kriteria keberhasilan yang ditetapkan sebelum program pelatihan diselengggarakan
  2. penyelenggaraan pre-test untuk mengetahui tingkat pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan para guru sekarang, guna memperoleh informasi tentang program pelatihan apa yang tepat diselenggarakan.
  3. pelaksanaan ujian pasca pelatihan untuk melihat apakah memang terjadi transformasi yang diharapkan atau tidak dan apakah transformasi tersebut tercermin dalam pelaksanaan pekerjaan masing-masing guru.
  4. tindak lanjut yang berkesinambungan. Salah satu ukuran tolok ukur penting dalam menilai berhasil tidaknya suatu program pelatihan ialah apabila transformasi yang diharapkan memang terjadi untuk kurun waktu yang cukup panjang di masa depan, tidak hanya segera setelah program tersebut selesai diselenggarakan
=============
SUMBER BACAAN
Alan Cowling & Philip James. 1996. The Essence of Personnel Management an Industrial Relation (terjemahan). Yogyakarta : ANDI
Daeng Sudirwo.2002. Kurikulum Pembelajaran Dalam Rangka Otonomi Daerah, Bandung : Andira
Indriyo Gito Sudarmo dan Agus Mulyono. 1990. Prinsip Dasar Manajemen (edisi 3). Yogyakarta : BPFE.
Robert Bacal .1999. Performance Management. (Alih Bahasa). Jakarta : PT. Gramedia.
Sondang P. Siagian .1991. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: Bumi Aksara