“Jika berkata-kata dari hati, maka akan sampai ke hati”
Anak bukanlah seonggok daging,
tulang dan kulit seperti barang atau seperti robot yang tidak memiliki
perasaan. Namum anak adalah sosok makhluk mulia ciptaan Allah SWT yang memiliki
hati dan ruh. Guru di sekolah atau orangtua di rumah sebagai
pendidik bukanlah seperti buruh di pabrik gelas.
Di pabrik gelas, bahan bakunya
berasal dari barang yang seragam. Hasil olahannya dapat dilihat dalam
beberapa saat. Tidak peduli isi hati pekerjanya dipenuhi cinta atau
benci, sentuhan tanganya kasar atau lembut, akan tetap terbentuk gelas yang
dipasarkan dengan harga yang pantas. Sungguh berbeda dengan
pendidikan.
Di pendidikan, bahan bakunya
merupakan sosok mulia yang tidak seragam bahkan dari anak kembar sekalipun.
Setiap anak memiliki daya tangkap, daya nalar dan kondisi emosional yang
berbeda. Mereka memang berbeda dan tidak ada yang sama untuk setiap
pribadi. Hasil pendidikan baru dapat dilihat setelah berhari-hari bahkan bertahun-tahun.
Prosesnya membutuhkan waktu untuk membentuk pandangan hidup, sikap dan
perilaku anak karena pendidikan tidak hanya memintarkan otak, tetapi juga
mencerdaskan watak. Isi hati pendidiknya harus dengan penuh kecintaan dan
sentuhan tangan yang lembut agar terbentuk sosok yang berkarakter positif dan
unggul.
Materi pelajaran yang
diajarkan dengan cara yang tidak mendidik mengakibatkan dampak buruk bagi sikap
dan perilaku anak. Sadar atau tidak Jika anak diajar dengan ejekan, berarti ia
belajar menjadi rendah diri. Jika anak diajar dengan dipermalukan maka ia
belajar merasa bersalah …. dan seterusnya. Selain itu Jika mendidik bukan
dengan hati sedangkan guru telah merasa cukup memberi materi pelajaran di
sekolah , orangtua pun telah membelikan buku pelajaran untuk dibaca di rumah,
maka wajarlah jika muncul perilaku buruk seperti perkelahian antar pelajar,
pergaulan bebas, bocornya soal UN yang merupakan fenomena buram yang meyelimuti
dunia pendidikan di Indonesia.
Mendidik dengan hati merupakan jawaban
dari masalah di atas. Mendidik dengan hati artinya seorang pendidik dalam
menyampaikan keilmuan harus memiliki keilkhlasan dan kecintaan serta
mengedepankan sikap bersahabat, menyenangkan, empati, konsistensi terhadap
komitmen, antusias, membangun team work, ramah, santun dan sabar.
Mendidik dengan hati bukan hanya
siap mengajarkan kepada anak, namun juga siap mendengar secara reflektif apa
pun yang diucapkan anak. Memahami dan menghargai perasaannya serta menampakan
bahwa kita benar-benar menyimak apa yang dikatakan, ulangi apa yang dia
ucapkan, dan ekspresikan bahwa kita sedang memikirkan perasaannya, berikan
respon positif, berikan umpan balik dengan nasihat atau usulan yang membangun
jiwanya.
Kegiatan dan hasil pembelajaran di
sekolah akan jauh berbeda antara pengajaran kognitif dan mendidik dengan hati.
Pengajaran kognitif member dampak kepada sulitnya pelajaran diserap oleh
murid. Seringkali kita melihat bahwa murid yang membenci guru matematika akan
membenci pelajaran matematika. Murid yang membenci guru kimia akan membenci
pelajaran kimia.
Mendidik dengan hati memberikan
suatu keyakinan kepada setiap murid, bahwa mereka mampu berprestasi, bisa
berkreasi, dan melakukan yang terbaik. Kekuatan pancaran hati dari pendidik
kepada murid berpengaruh terhadap utuhnya kesuksesan pendidikan. Dengan
demikian pembelajaran yang bermakna, bukan melulu guru mengajari ilmu dan fakta
(transfer ilmu semata) melainkan kerja hati yang merupakan kekayaan yang
Allah berikan. Bahasa hati melebihi bahasa tubuh.
Kesuksesan mendidik bukan
semata-mata dari betapa kerasnya otot dan betapa tajamnya otak, namun juga
betapa lembut hati pendidik dalam berhubungan dengan muridnya. Mari kita
renungkan…, sudahkah kita mengutamakan hati setiap kali kita melakukan proses
mendidik ?
Sumber : http://www.alirsyadpwt.com/content/mendidik-dengan-hati

Tidak ada komentar:
Posting Komentar