.

blog-indonesia.comWelcome to Smart Alzind Cerdas Istimewa Bakat Istimewa (CI-BI)

Tuesday, September 2, 2008

Quality Assurance Di Sekolah Al Zahra Indonesia Pamulang Banten

by EDY MARYANTO*)
Kegiatan Quality Assurance/QA (Jaminan Mutu) di Sekolah Al zahra Indonesia atau jasa pelayanan pendidikan bertujuan memberikan pelayanan terbaik bagi seluruh warga sekolah
Untuk karyawan baik guru maupun non guru yang memiliki kontak langsung kepada peserta didik , orang tua wali murid memberikan pelayanan yang terbaik merupakan konsep nyata tentang QA. Seluruh karyawan baik guru maupun non guru , memberikan mutu pekerjaan yang baik sehingga memberikan kontribusi kepada penciptaan mutu pelayanan yang baik untuk para customer/ pengguna jasa pendidikan menjadi konsep mereka mengenai QA.
Quality Assurance juga menyusun mekanisme untuk menjamin bahwa tujuan penerapannya tercapai. QA akan berhasil bila dalam pelaksanaannya QA menjadi aktivitas karyawan yang dilakukan rutin setiap hari. Dan penerapannya akan lebih efektif lagi bila tujuan dari QA menjadi tujuan pribadi dari setiap karyawan.
Agar dapat mentransformasikan tujuan QA menjadi tujuan pribadi maka setiap karyawan perlu memahami secara menyeluruh mengenai konsep dasar dari Quality Assurance. Konsep QA sendiri biasanya mudah diterima dan dimengerti. Namun tidak jarang juga karyawan atau manajemen salah kaprah dalam pelaksanaan QA. Hal ini dikarenakan tinjauan mengenai QA seringkali overlap dengan tinjauan aktivitas lain
Quality assurance di Sekolah
Suatu teknik untuk menentukan bahwa proses pendidikan telah berlangsung sebagaimana seharusnya. Dengan teknik ini akan dapat dideteksi adanya penyimpangan yang terjadi pada proses. Teknik menekankan pada monitoring yang berkesinambungan, dan melembaga, menjadi subsistem sekolah.
Quality assurance akan menghasilkan informasi, yang :
Merupakan umpan balik bagi sekolah
Memberikan jaminan bagi orang tua siswa bahwa sekolah senantiasa memberikan pelayanan terbaik bagi siswa.
Untuk melaksanakan quality assurance menurut Bahrul Hayat dalam hand out pelatihan Calon kepala sekolah (2000:6), maka sekolah harus :
Menekankan pada kualitas hasil belajar
Hasil kerja siswa dimonitor secara terus menerus
Informasi dan data dari sekolah dikumpulkan dan dianalisis untuk memperbaiki proses di sekolah.
Semua pihak mulai kepala sekolah, guru, pegawai administrasi, dan juga orang tua siswa harus memiliki komitmen untuk secara bersama mengevaluasi kondisi sekolah yang kritis dan berupaya untuk memperbaiki.

Manajemen Mutu Terpadu yang diterjemahkan dari Total Quality Management (TQM) atau disebut pula Pengelolaan Mutu Total (PMT) adalah suatu pendekatan mutu pendidikan melalui peningkatan mutu komponen terkait. M. Jusuf Hanafiah, dkk (1994:4) mendefinisikan Pengelolaan Mutu Total (PMT) adalah suatu pendekatan yang sistematis, praktis, dan strategis dalam menyelenggarakan suatu organisasi, yang mengutamakan kepentingan pelanggan. pendekatan ini bertujuan untuk meningkatkan dan mengendalikan mutu. Sedang yang dimaksud dengan Pengeloaan Mutu Total (PMT) Pendidikan tinggi (bisa pula sekolah) adalah cara mengelola lembaga pendidikan berdasarkan filosofi bahwa meningkatkan mutu harus diadakan dan dilakukan oleh semua unsur lembaga sejak dini secara terpadu berkesinambungan sehingga pendidikan sebagai jasa yang berupa proses pembudayaan sesuai dengan dan bahkan melebihi kebutuhan para pelanggan baik masa kini maupun yang akan datang.
Komponen yang terkait dengan mutu pendidikan yang termuat dalam buku “Panduan Manajemen Sekolah” (2000: 191) adalah 1) siswa : kesiapan dan motivasi belajarnya, 2) guru : kemampuan profesional, moral kerjanya (kemampuan personal), dan kerjasamanya (kemampuan social). 3) kurikulum : relevansi konten dan operasionalisasi proses pembelajarannya, 4) dan, sarana dan prasarana : kecukupan dan keefektifan dalam mendukung proses pembelajaran, 5) Masyarakat (orang tua, pengguna lulusan, dan perguruan tinggi) : partisipasinya dalam pengembangan program-program pendidikan sekolah. Mutu komponen-komponen tersebut di atas menjadi fokus perhatian kepala sekolah.
Adapun prinsip dari MMT dalam buku tersebut yaitu selama ini sekolah dianggap sebagai suatu “Unit Produksi”, dimana siswa sebagai bahan mentah dan lulusan sekolah sebagai hasil produksi. Dalam MMT sekolah dipahami sebagai “Unit Layanan Jasa”, yakni pelayanan pembelajaran.
Sebagai unit layanan jasa, maka yang dilayani sekolah (pelanggan sekolah ) adalah: 1) Pelanggan internal : guru, pustakawan, laboran, teknisi dan tenaga administrasi, 2) Pelanggan eksternal terdiri atas : pelanggan primer (siswa), pelanggan sekunder (orang tua, pemerintah dan masyarakat), pelanggan tertier (pemakai/penerima lulusan baik diperguruan tinggi maupun dunia usaha).

*)Kepala Sekolah SMP Al Zahra Indoesia. Pamulang Banten
Referensi :
Gaspersz, Vincent. 2000. Penerapan Total Management In Education (TQME) Pada Perguruan Tinggi di Indonesia, Jurnal Pendidikan (online), Jilid 6, No. 3 (http://www.ut.ac.id/ diakses 20 Januari 2001).
Nasution, MN, 2000. Manajemen Mutu Terpadu, Ghalia Indonesia, Jakarta
Slamet, PH. 2000. Karakteristik Kepala Sekolah Yang Tangguh, Jurnal Pendidikan, Jilid 3, No. 5 (online) (http://www.ut.ac.id/ diakses 20 Januari 2001).
Anonim, 2000. Quality Assurance di Rumah sakit , (http://www.aimsconsultants.com/ diakses 21 April 2005).

2 comments:

admin said...

Tidak mudah menjadi guru, saya pribadi sangat menghargai profesi yg satu ini. Saya tdk mengulas ttg QA di Al Zahra tapi ttg QA - jaminan mutu terutama dunia pendidikan di indonesia. Memang QA pendidikan di indonesia perlu dapat perhatian serius dari semua pihak. 1. pengajar/guru : harus mempunyai capability, bakat, karakter pendidik dan kemauan untuk belajar pengembangkan dirinya dari pesatnya informasi dan yang tdk kalah penting adalah kompetisi perekrutan/pengadaan guru yang berkualitas. Fakta bahwa rekrutmen guru terutama CPNS yg saya lihat dan saya rasakan selama ini hingga sekarang bisa dibilang "kurang layak" dalam pemenuhan kualitas kompetisi perekrutan. 2. Siswa : saya tidak akan berbicara input siswa, tetapi justru lebih kepada penekanan perbaikan moral dan etika dg tidak melupakan begitu saja sarana prasarana, kemudahan informasi, dan penyerapan pembelajaran.
3. Pendukung lainnya meliputi lingkungan sekolah, orang tua, regulasi pemerintah.
Ketiga aspek tersebut yang perlu segera mendapat priritas adalah pembinaan moral & etika siswa beserta pendidik, sistem kompetisi perekrutan guru dan regulasi pemerintah yang sepenuhnya konsisten terhadap pendidikan yang terjangkau serta berkualitas.
Tetaplah berkarya pak Edi M...semoga blog ini bermanfaat.

Smart AlZind said...

Terima kasih atas pendapatnya tentang dunia pendidikan di Indonesia untuk itu mari kita bekerja sama untuk memberikan yang terbaik buat pendidikan.