.

blog-indonesia.comWelcome to Smart Alzind Cerdas Istimewa Bakat Istimewa (CI-BI)

Friday, August 31, 2012

MENDIDIK DENGAN HATI


“Jika berkata-kata dari hati, maka akan sampai ke hati”
Anak bukanlah seonggok daging, tulang dan kulit seperti barang  atau seperti robot yang tidak memiliki perasaan. Namum anak adalah sosok makhluk mulia ciptaan Allah SWT yang memiliki hati dan ruh.  Guru di sekolah atau orangtua di rumah  sebagai pendidik bukanlah seperti buruh di  pabrik gelas.   
Di pabrik gelas, bahan bakunya berasal dari barang yang seragam.  Hasil olahannya dapat dilihat dalam beberapa saat.  Tidak peduli isi hati pekerjanya dipenuhi cinta atau benci, sentuhan tanganya kasar atau lembut, akan tetap terbentuk gelas yang dipasarkan dengan harga yang pantas.  Sungguh berbeda dengan  pendidikan.
Di pendidikan, bahan bakunya merupakan sosok mulia yang tidak seragam bahkan dari anak kembar sekalipun. Setiap anak memiliki daya tangkap, daya nalar dan kondisi emosional yang berbeda. Mereka memang berbeda dan tidak ada yang sama untuk setiap pribadi.  Hasil pendidikan baru dapat dilihat setelah berhari-hari bahkan bertahun-tahun.  Prosesnya membutuhkan waktu untuk membentuk pandangan hidup, sikap dan perilaku anak karena pendidikan tidak hanya memintarkan otak, tetapi juga mencerdaskan watak.  Isi hati pendidiknya harus dengan penuh kecintaan dan sentuhan tangan yang lembut agar terbentuk sosok yang berkarakter positif dan unggul.
Materi pelajaran  yang diajarkan dengan cara yang tidak mendidik mengakibatkan dampak buruk bagi sikap dan perilaku anak. Sadar atau tidak Jika anak diajar dengan ejekan, berarti ia belajar menjadi rendah diri. Jika anak diajar dengan dipermalukan maka  ia belajar merasa bersalah …. dan seterusnya.  Selain itu Jika mendidik bukan dengan hati sedangkan  guru telah merasa cukup memberi materi pelajaran di sekolah , orangtua pun telah membelikan buku pelajaran untuk dibaca di rumah, maka wajarlah jika muncul perilaku buruk seperti perkelahian antar pelajar, pergaulan bebas, bocornya soal UN yang merupakan fenomena buram yang meyelimuti dunia pendidikan di Indonesia.
Mendidik dengan hati merupakan jawaban dari  masalah di atas. Mendidik dengan hati artinya seorang pendidik dalam menyampaikan keilmuan harus memiliki keilkhlasan dan kecintaan serta mengedepankan sikap bersahabat, menyenangkan, empati, konsistensi terhadap komitmen, antusias, membangun team work, ramah, santun dan sabar.
Mendidik dengan hati bukan hanya siap mengajarkan kepada anak, namun juga siap mendengar secara reflektif apa pun yang diucapkan anak. Memahami dan menghargai perasaannya serta menampakan bahwa kita benar-benar menyimak apa yang dikatakan, ulangi apa yang dia ucapkan, dan ekspresikan bahwa kita sedang memikirkan perasaannya, berikan respon positif, berikan umpan balik dengan nasihat atau usulan yang membangun jiwanya.
Kegiatan dan hasil pembelajaran di sekolah akan jauh berbeda antara pengajaran kognitif dan mendidik dengan hati.  Pengajaran kognitif member dampak kepada sulitnya pelajaran diserap oleh murid. Seringkali kita melihat bahwa murid yang membenci guru matematika akan membenci pelajaran matematika. Murid yang membenci guru kimia akan membenci pelajaran kimia.  
Mendidik dengan hati memberikan suatu keyakinan kepada setiap murid, bahwa mereka mampu berprestasi, bisa berkreasi, dan melakukan yang terbaik. Kekuatan pancaran hati dari pendidik kepada murid berpengaruh terhadap utuhnya kesuksesan pendidikan. Dengan demikian pembelajaran yang bermakna, bukan melulu guru mengajari ilmu dan fakta (transfer ilmu semata) melainkan kerja hati  yang merupakan kekayaan yang Allah berikan.  Bahasa hati melebihi bahasa tubuh.  
Kesuksesan mendidik bukan semata-mata dari betapa kerasnya otot dan betapa tajamnya otak, namun juga betapa lembut hati pendidik dalam berhubungan dengan muridnya. Mari kita renungkan…, sudahkah kita mengutamakan hati setiap kali kita melakukan proses mendidik ?
Sumber : http://www.alirsyadpwt.com/content/mendidik-dengan-hati

No comments: