.

blog-indonesia.comWelcome to Smart Alzind Cerdas Istimewa Bakat Istimewa (CI-BI)
English French German Spain Italian Dutch Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Select Language Powered by Google

Thursday, January 31, 2013

MEMBUAT PROGRAM UNGGULAN DI SEKOLAH.



Banyak cara sekolah kelihatan unggul dan banyak cara juga untuk mencapainya. Program unggulan bisa dirancang bisa juga terjadi tanpa disengaja. Sekolah sebagai komunitas mesti punya tujuan untuk mengangkat sebuah hal sebagai program unggulan. Manfaat dari sekolah mempunyai program unggulan adalah
  • Mudah bagi orang tua siswa mengingat apa keunggulan dari sebuah sekolah, dan berguna sekali dalam pemasaran.
  • Guru dan murid merasa punya kebanggan terhadap sekolah.
  • Siswa merasa bangga bersekolah di tempat yang punya keunggulan
Bahkan sekolah negeri pun yang nota bene tidak punya kewajiban menarik minat murid, juga perlu punya program unggulan.
Program unggulan bisa dibagi menjadi 3 yaitu;
1. Program unggulan yang bersifat akademis.
Cara yang paling gampang adalah membina murid untuk diikutsertakan lomba atau olimpiade yang berhubungan dengan mata pelajaran tertentu. Bicara soal subyek yang menjadi andalan, tidak lain berkisar antara Matematika dan sains. Olimpiade matematika dan sains sering diadakan sebagai cara untuk mengukur pemahaman terhadap konsep. Sekolah yang memilih program ini sebagai program unggulan secara rutin menjaring dan melatih muridnya agar bisa berkompetisi.
2. Program unggulan yang dihasilkan dari ekskul
Ekskul yang saua maksud adalah ekskul kesenian (musik, tari, drum band, teater dll) Olahraga dan Life skills (keterampilan hidup) seperti pramuka dan palang merah remaja.
Ciri sekolah yang memilih program unggulannya dari sisi ekskul adalah suasana sekolah yang sibuk dan ramai setelah pulang sekolah bahkan di hari libur. Banyak sekali keuntungan dari keputusan sekolah untuk mengambil program unggulan dari sisi ini. Guru dan murid terpacu untuk menghasilkan yang terbaik. Ekskul pramuka misalnya, jika dikelola dengan baik terbukti membuat karakter siswa menjadi terbentuk dan sangat berguna saat dewasa.
Jika ekskulnya berbayar, guru akan lebih semangat lagi karena menambah penghasilan. Jika sekolah dan orang tua siswa sepakat bisa juga menyewa profesional untuk melatih siswanya dalam bidang tertentu. Tentunya hal ini akan membawa konsekuensi dalam hal pembiayaan. Profesional bidang musik, vokal, drum band, tari dan drama adalah orang-orang yang bisa dilibatkan dalam memajukan program unggulan melalui ekskul di sekolah.
3. Program unggulan yang dilakukan secara terintegrasi dengan proses pembelajaran di sekolah.
Termasuk dalam program unggulan jenis ini adalah
  • reading program (program membaca, untuk siswa SD di mana siswa membaca buku secara kontinyu digolongkan dan dimonitor setiap hari oleh guru). Bagus sebagai upaya memupuk rasa cinta membaca.
  • Kedisiplinan dan bela Negara. Sekolah yang cocok untuk penerapan jenis ini adalah sekolah yang ada di komplek militer atau SMK yang disiplinnya bisa terbentuk karena kegiatannya yang bersifat militeristik dan menegakkan disiplin.
Ukuran sebuah program unggulan berhasil adalah
  • Jika surat kabar dan majalah serta televisi meliput tanpa dibayar oleh pihak sekolah. Mereka datang karena mendengar atau karena melakukan pencarian di google
  • Jika orang tua siswa ingin memasukkan ke sekolah karena ia tahu bahwa sekolah tsb unggul dalam suatu bidang tertentu berdasarkan pertimbangan yang ia terima dari orang lain.
Sebuah sekolah adalah persemaian siswa untuk bisa berkontribusi positif di masyarakat. Sekolah wajib membuat siswanya merasa bangga pada tempat ia bersekolah dan menuntut ilmu. Dengan sekolah berkonsentrasi pada program unggulan saat yang sama sekolah sedang membuat ‘branding’ atas nama sekolah dimata masyarakat. Nah sekarang apa program unggulan sekolah anda? Yuk berbagi lewat kolom komentar.
Sumber: http://gurukreatif.

Sunday, January 27, 2013

Keterampilan Proses Dalam Pembelajaran.



PENDAHULUAN
Pada bahasan kali ini, kelompok kami menyusun makalah yang berjudul “Keterampilan Proses Sains”. Di dalam makalah ini akan di bahas tentang pengertian dari keterampilan proses, pengertian pendekatan keterampilan proses, pengertian keterampilan proses sains, dan lain-lain akan kita bahas lebih lanjut.
Sebagai calon guru tentunya terdapat upaya untuk meningkatkan keberhasilan pelaksanaan kegiatan belajar-mengajar yakni dengan keterpaduan antara kegiatan guru dengan kegiatan siswa.
Tugas utama gurur adalah menciptakan suasana di dalam proses belajae-mengajar agar terjadi interaksi belajar-mengajar yang dapat memotivasi siswa untuk belajar dengan baik dan sungguh-sungguh. Untuk itu, guru diharuskan memiliki kemampuan untuk memiliki interaksi belajar-mengajar yang baik dengan siswanya.
Pada makalah kelompok kami akan memberikan gambaran umum mengenai pendekatan dalam pelaksanaan kegiatan belajar-mengajar melalui pendekatan ketrampilan proses sains, mengenai apa saja tujuan dari keterampilan proses sains, serta apa saja alasan yang melandasi untuk diterapkannya pendekatan ketrampilan proses maupun keterampilan proses dasar sains dalam kegiatan belajar-mengajar.
BAB II
ISI
2. 1. Pengertian Keterampilan Proses
Keterampilan proses adalah keterampilan yang diperoleh dari latihan kemampuan-kemampuan mental, fisik dan sosial yang mendasar sebagai penggerak kemampuan-kemampuan yang lebih tinggi. Kemampuan-kemampuan mendasar yang telah dikembangkan dan telah terlatih lama-kelamaan akan menjadi suatu keterampilan.
2. 2. Pengertian Pendekatan Keterampilan Proses
Sedangkan pengertian pendekatan keterampilan proses adalah cara memandang anak didik sebagai manusia seutuhnya. Cara memandang ini dijabarkan dalam kegiatan belajar mengajar memperhatikan pengembangan pengetahuan, sikap, nilai serta keterampilan. Ketiga unsur itu menyatu dalam satu individu dan terampil dalam bentuk kreativitas.
Pendekatan keterampilan proses merupakan pendekatan belajar-mengajar yang mengarah kepada pengembangan kemampuan mental, fisik dan social yang mendasar sebagai pengerak kemampuan yang lebih tinggi dalam diri individu siswa. Pendekatan keterampilan proses sebagai pendekatan yang menekankan pada penumbuhan dan pengembangan sejumlah keterampilan tertentu pada diri peserta didik agar mereka mampu memproses informasi sehingga ditemukan hal-hal yang baru yang bermanfaaat baik berupa fakta, konsep, maupun pengembangan sikap dan nilai.
Sejalan dengan asumsi di atas, maka belajar-mengajar dipandang sebagai suatu proses yang harus dialami oleh setiap peserta didik. Belajar-mengajar tidak hanya menekankan kepada apa yang dipelajari, tetapi juga menekankan kepada bagaimana ia harus belajar. Oleh karena itu, pada pendekatan keterampilan proses ini, maka siswa berperan selaku subjek dalam belajar. Ia bukan sekedar penerima informasi, tetapi sebaliknya sebagai pencari informasi. Sehingga siswa harus aktif dan terampil untuk mampu mengelola perolehannya, hasil belajarnya, atau pengalamannya.
2. 3. Pengertian Keterampilan Proses Sains
Sejarah ilmu pengetahuan adalah bagian dari sejarah bagaimana para ilmuwan datang untuk melihat dunia yang mereka pelajari. Eksperimentasi dan observasi ilmiah datang untuk didefinisikan oleh latihan dari sebuah proses yang disebut metode ilmiah. Keterampilan yang mendasari premis yang mengatur metode ilmiah disebut sebagai keterampilan proses sains.
2. 4. Tujuan Pengajaran Sains dalam Keterampilan Proses Sains
Tujuan pengajaran sains dalam keterampilan proses sains adalah sebagai proses untuk meningkatkan keterampilan berpikir siswa, sehingga siswa bukan hanya mampu dan terampil dalam bidang psikomotorik dan sekedar ahli menghafal. Guru tidak mengharapkan setiap siswa akan menjadi ilmuan, melainkan dapat mengemukakan ide bahwa memahami sains sebagian bergantung pada kemampuan memandang dan bergaul dengan alam menurut cara-cara seperti yang diperbuat oleh ilmuan.
Dalam pembelajaran IPA, keterampilan-keterampilan proses sains adalah keterampilan-keterampilan yang dipelajari siswa saat mereka melakukan inkuiri ilmiah. Mereka menggunakan berbagai macam keterampilan proses, bukan hanya satu metode ilmiah tunggal. Keterampilan-keterampilan proses tersebut adalah pengamatan, pengklasifikasian, penginferensian, peramalan, pengkomunikasian, pengukuran, penggunaan bilangan, pengintepretasian data, melakukan eksperimen, pengontrolan variabel, perumusan hipotesis, pendefinisian secara operasional, dan perumusan model (http://anwarholil.blogspot.com/2008/04/keterampilan-proses.html)
Selain itu melalui proses belajar mengajar dengan pendekatan keterampilan proses dilakukan dengan keyakinan bahwa sains adalah alat yang potensial untuk membantu mengembangkan kepribadian siswa, dimana kepribadian siswa yang berkembang ini merupakan prasyarat untuk melanjutkan kejalur profesi apapun yang diminatinya.
Keterampilan proses dalam pengajaran sains merupakan suatu model atau alternatif pembelajaran sains yang dapat melibatkan siswa dalam tingkah laku dan proses mental, seperti ilmuwan.
2. 5. Alasan yang Melandasi Perlunya Diterapkan Pendekatan Keterampilan Proses dalam Kegiatan Belajar-Mengajar.
Ada beberapa alasan yang melandasi perlunya diterapkan pendekatan keterampilan proses dalam kegiatan belajar-mengajar.
Alasan pertama, perkembangan ilmu pengetahuan berlangsung semakin cepat sehinggga tak mungkin lagi para guru mengajarkan semua fakta dan konsep kepada siswa. Jika guru bersikeras mau mengajarkan semua fakta dan konsep dari berbagai cabang ilmu maka guru akan bertindak sebagai satu-satunya sumber informasi. Karena terdesak waktu untuk mengejar pencapaian kurikulum, maka guru akan memilih jalan yang termudah, yakni menginformasikan fakta dan konsep melalui metode ceramah. Akibatnya, para siswa memiliki banyak pengetahuan tetapi tidak dilatih untuk menemukan konsep dan mengembangkan ilmu pengetahuan.
Alasan kedua, para ahli psikologi umumnya sependapat bahwa anak-anak mudah memahami konsep-konsep yang rumit dan abstrak jika disertai dengan contoh-contoh yang kongkret, wajar sesuai dengan situasi dan kondisi yang dihadapi, dengan mempraktekan sendiri upaya penemuan konsep melalui perlakuan terhadap kenyataan fisik, melalui penanganan benda-benda yang benar-benar nyata.
Alasan ketiga, Penemuan ilmu pengetahuan tidak bersifat mutlak seratus persen, penemuannya bersifat relative. Suatu teori mungkin terbantah dan ditolak setelah orang mendapatkan data baru yang mampu membuktikan kekeliruan teori yang dianut. Anak perlu dilatih berfikir kritis, selalu bertanya, dan memungkinkan jawaban terhadap satu masalah.
Alasan keempat, dalam proses belajar-mengajar seyogyanya pengembangan konsep tidak dilepaskan dari pengembangan sikap dan nilai dalam diri anak didik. Yang kita tuju adalah menghasilkan insan pemikir sekaligus insan yang manusiawi yang menyatu dalam satu pribadi yang selaras, serasi, dan seimbang.
2. 6. Dua Alasan yang Melandasi untuk Menerapkan Keterampilan Proses Dasar Sains dalam Kegiatan Belajar-Mengajar
Dalam menerapkan keterampilan proses dasar sains dalam kegiatan belajar mengajar, ada dua alasan yang melandasinya yaitu:
a. Bahwa dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, maka laju pertumbuhan produk-produk ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi pesat pula. sehingga tidak mungkin lagi guru mengajarkan semua fakta dan konsep kepada siswa. Jika guru tetap mengajarkan semua fakta dan konsep dari berbagai cabang ilmu, maka sudah jelas target itu tidak akan tercapai. Untuk itu siswa perlu dibekali dengan keterampilan untuk mencari dan mengolah informasi dari berbagai sumber, dan tidak semata-mata dari guru.
b. Bahwa sains itu dipandang dari dua dimensi, yaitu dimensi produk dan dimensi proses. Dengan melihat alasan ini betapa pentingnya keterampilan proses bagi siswa untuk mendapatkan ilmu yang akan berguna bagi siswa dimasa yang akan datang, sehingga bangsa kita akan dapat sejajar dengan bangsa maju lainnya.
2. 7. Keterampilan Proses Diklasifikasikan Menjadi Dua
Funk (1985) dalam Dimyati dan Mudjiono, (2002: 140) mengutarakan bahwa berbagai keterampilan proses dapat diklasifikasikan menjadi dua yaitu:
a.) Keterampilan proses dasar (basic skill)
Keterampilan proses dasar meliputi kegiatan yang berhubungan dengan observasi, klasifikasi, pengukuran, komunikasi, prediksi, inferensi. Bila kita kaji lebih lanjut sebagai berikut.
1. Observasi
Melalui kegiatan mengamati, siswa belajar tentang dunia sekitar yang fantastis. Manusia mengamati objek-objek dan fenomena alam dengan melibatkan indera penglihat, pembau, pengecap, peraba, pendengar. Informasi yang diperoleh itu, dapat menuntut interpretasi siswa tentang lingkungan dan menelitinya lebih lanjut. Kemampuan mengamati merupakan keterampilan paling dasar dalam proses dan memperoleh ilmu serta hal terpenting untuk mengembangkan keterampilan proses yang lain. Mengamati merupakan tanggapan terhadap berbagai objek dan peristiwa alam dengan pancaindra. Dengan obsevasi, siswa mengumpulkan data tentang tanggapan-tanggapan terhadap objek yang diamati.
2. Klasifikasi
Sejumlah besar objek, peristiwa, dan segala yang ada dalam kehidupan di sekitar, lebih mudah dipelajari apabila dilakukan dengan cara menentukan berbagai jenis golongan. Menggolongkan dan mengamati persamaan, perbedaan dan hubungan serta pengelompokan objek berdasarkan kesesuaian dengan berbagai tujuan. Keterampilan mengidentifikasi persamaan dan perbedaan berbagai objek peristiwa berdasarkan sifat-sifat khususnya sehingga didapatkan golongan atau kelompok sejenis dari objek peristiwa yang dimaksud.
3. Komunikasi
Manusia mulai belajar pada awal-awal kehidupan bahwa komunikasi merupakan dasar untuk memecahkan masalah. Keterampilan menyapaikan sesuatu secara lisan maupun tulisan termasuk komunikasi. Mengkomunikasikan dapat diartikan sebagai penyampaikan dan memperoleh fakta, konsep, dan prinsip ilmu pengetahuan dalam bentuk suara, visual, atau suara dan visual (Dimyati dan Mudjiono, 2002: 143). Contoh membaca peta, tabel, garfik, bagan, lambang-lambang, diagaram, demontrasi visual.
4. Pengukuran
Mengukur dapat diartikan sebagai membandingkan yang diukur dengan satuan ukuran tertentu yang telah ditetapkan sebelumnya. Keterampilan dalam menggunakan alat dalam memperoleh data dapat disebut pengukuran.
5. Prediksi
Predeksi merupakan keterampilan meramal yang akan terjadi, berdasarkan gejala yang ada. Keteraturan dalam lingkungan kita mengizinkan kita untuk mengenal pola dan untuk memprediksi terhadap pola-pola apa yang mungkin dapat diamati. Dimyati dan Mudjiono (2002: 144) menyatakan bahwa memprediksi dapat diartikan sebagai mengantisipasi atau membuat ramalan tentang segala hal yang akan terjadi pada waktu mendatang, berdasarkan perkiraan pada pola atau kecenderungan tertentu, atau hubungan antara fakta, konsep, dan prinsip dalam pengetahuan.
6. Inferensi
Melakukan inferensi adalah menyimpulkan. Ini dapat diartikan sebagai suatu keterampilan untuk memutuskan keadaan suatu objek atau peristiwa berdasarkan fakta, konsep dan prinsip yang diketahui.
b.) Keterampilan terintegrasi (integarted skill).
Keterampilan terintegrasi merupakan perpaduan dua kemampuan keterampilan proses dasar atau lebih. Keterampilan terintegrasi terdiri atas: mengidentifikasi variabel, tabulasi, grafik, diskripsi hubungan variabel, perolehan dan proses data, analisis penyelidikan, hipotesis ekperimen. Bila kita kaji lebih lanjut sebagai berikut.
1. Identifikasi Variabel
Keterampilan mengenal ciri khas dari faktor yang ikut menentukan perubahan.
Dalam penyelidikan ilmiah para ilmuan sering mengendalikan variable eksperimen atau penelitian.
2. Tabulasi
Keterampilan penyajian data dalam bentuk tabel, untuk mempermudah pembacaan hubungan antarkomponen (penyusunan data menurut lajur-lajur yang tersedia).
3. Grafik
Keterampilan penyajian dengan garis tentang turun naiknya sesuatu keadaan.
4. Deskripsi hubungan variabel
Keterampilan membuat sinopsis/pernyataan hubungan faktor-faktor yang menentukan perubahan. Variabel adalah faktor yang berpengaruh. Sebagai contoh, guru dapat melatih anak-anak dalam mengendalikan variabel untuk membuktikan bahwa tanaman jagung yang diberi pupuk akan lebih cepat tumbuh.
5. Perolehan dan proses data
Keterampilan melakukan langkah secara urut untuk memperoleh data. Data yang dikumpulkan melalui observasi, penghitungan, pengukuran, eksperimen dapat dicatat dan disajikan dalam bentuk grafik, tabel, histogram, atau diagram.
6. Analisis penyelidikan
Keterampilan menguraikan pokok persoalan atas bagian-bagian dan terpecahkannya permasalahan berdasarkan metode yang konsisten untuk mencapai pengertian tentang prinsip-prinsip dasar.
7. Hipotesis
Keterampilan merumuskan dugaan sementara.
8. Ekperimen
Keterampilan melakukan percobaan untuk membuktikan suatu teori/penjelasan berdasarkan pengamatan dan penalaran.
Keterampilan proses seperti yang diutarakan oleh Funk merupakan keterampilan proses yang harus diaplikasikan pada pendidikan di sekolah oleh guru. Pembelajaran sains menekankan pada pembentukan keterampilan memperoleh pengetahuan dan mengembangkan sikap ilmiah. Hal ini bisa tercapai apabila dalam pembelajaran menggunakan pendekatan keterampilan proses baik keterampilan proses dasar maupun keterampilan proses terintegrasi (terpadu) seperti terungkap di atas.
Keterampilan memperoleh pengetahuan yang ingin dibentuk adalah daya pikir dan kreasi. Daya pikir dan daya kreasi merupakan indikator perkembangan kognitif. Para ahli psikologi pendidikan menemukan bahwa pekembangan kognitif bukan merupakan akumulasi kepingan informasi atau kepingan perubahan informasi yang terpisah, tetapi merupakan pembentukan oleh anak suatu kerangka atau jaringan mental untuk memahami lingkungan.
2. 8. Cara Guru Mengajar dengan Keterampiulan Proses
Siswa dapat belajar dengan baik dalam suasana yang wajar, tanpa tekanan, dalam kondisi yang merangsang untuk belajar. Mereka mamerlukan bimbingan dan bantuan untuk memahami bahan pelajaran dalam berbagai kegiatan belajar.
Untuk menciptakan suasana yang dapat menumbuhkan gairah belajar. Dapat dilakukan cara sebagai berikut:
a.) Tujuan pengajaran
Tujuan mengajar merupakan pangakl tolak keberhasilan dalam mengajar. Makin jelas tujuan rumusan, makin mudah menyususn rencana dan melaksanakan kegiatan belajar siswadi bawah bimbingan guru.
b.) Waktu
Diperlukan pengaturan waktu yang tersedia, yang mana waktu yang tersedia akan dirasakan singkat bila diisi dengan kegiatan yang menggairahkan siswa untuk belajar dan juga dapat memberikan hasil belajar yang produktif.
c.) Pengaturan ruang belajar
Agar tercipta suasana yang menggairahkan dalam belajar, perlu diperhatikan pengaturan ruang belajar. Dalam pengaturan ruang, hal-hal berikut perlu diperhatikan.
- Ukuran dan bentuk kelas
- Bentuk serta ukuran bangku dan meja siswa
- Jumlah siswa di dalam kelas
d.) Pengaturan siswa dalam belajar
Dalam belajar, siswa melakukan beragam kegiatan belajar. Kegiatan ini disesuaikan dengan minat dan kebutuhan siswa itu sendiri.
Agar kegiatan-kegiatan belajar yang diciptakan guru sesuai dengan kebutuhan cara belajar siswa, diperlukan pengelompokkan siswa dalam belajar. Penyusunan anggota kelompok, hal-hal yang perlu diperhatikan antara lain:
- Kegiatan belajar apa yang akan dilaksanakan (individual, kelompok)?
- Siapa yang menyusun anggota kelompok (guru, siswa)
- Atas dasar apa kelompok itu disusun?
- Apakah kelompok itu berubah-ubah, ataukah tetap?
e.) Pengelompokan siswa melayani kegiatan belajar-mengajar
Dalam melayani kegiatan belajar aktif, pengelompokkan siswa mempunyai arti tersendiri. Jika dibedakan dari pengelompokkan yang sederahana sampai yang kompleks, maka pengelompokkan siswa dapat dibedakan dalam tiga jenis yaitu:
- Menurut kesenangan berkawan
- Menurut kemampuan
- Menurut minat
BAB III
PENUTUP
3. 1. Kesimpulan
Jadi, keterampilan proses sains adalah keterampilan yang mendasari premis yang mengatur metode ilmiah. Keterampilan-keterampilan proses sains adalah keterampilan-keterampilan yang dipelajari siswa saat mereka melakukan inkuiri ilmiah. Mereka menggunakan berbagai macam keterampilan proses, bukan hanya satu metode ilmiah tunggal. Keterampilan-keterampilan proses tersebut adalah pengamatan, pengklasifikasian, penginferensian, peramalan, pengkomunikasian, pengukuran, penggunaan bilangan, pengintepretasian data, melakukan eksperimen, pengontrolan variabel, perumusan hipotesis, pendefinisian secara operasional, dan perumusan model.
Pendekatan keterampilan proses dilakukan dengan keyakinan bahwa sains adalah alat yang potensial untuk membantu mengembangkan kepribadian siswa, dimana kepribadian siswa yang berkembang ini merupakan prasyarat untuk melanjutkan kejalur profesi apapun yang diminatinya.
Keterampilan proses dalam pengajaran sains merupakan suatu model atau alternatif pembelajaran sains yang dapat melibatkan siswa dalam tingkah laku dan proses mental, seperti ilmuwan.
DAFTAR PUSTAKA
Semiawan, Conny. 1988. Pendekatan Keterampilan Proses. PT. Gramedia: Jakarta
Moh. Uzer Usman, Drs. 1993. Upaya Optimalisasi Kegiatan Belajar Mengajar. PT Remaja Rosdakarya: Bandung.
Wijaya, Cece, DRS. 1992. Upaya Pembaharuan dalam Pendidikan dan Pengajaran. PT. Remaja Rosdakarya: Bandung.

Sumber Bacaan :                                  
http://www.ukessays.com/essays/education/keterampilan-proses.

Thursday, January 24, 2013

Seperti apa sich SISTEM PENDIDIKAN TERBAIK DI DUNIA ITU ???



Berikut penuturan dari Syed Abdul Rahman Alsagoff
Foundar Arabic School in Singapore
Sekolah tertua yg didirikan oleh Swasta di Singapura; Sumber; Channel News Asia , 6 Mei 2009

Mengatakan bahwa ternyata di Finlandia itu tidak ada:

1. Akreditasi (Pemeringkatan) sekolah oleh pemerintah, yg ada akreditasi oleh Masyarakat; Jadi masyarakat melihat langsung apakah anak mereka yg didik di sekolah tersebut menjadi semakin baik, beretika dan cerdas atau malah sebaliknya. Jadi sekolah tidak dinilai oleh satu pihak saja, yakni Pemerintah, melalui Stnadar tunggal yg bisa saja keliru (dan jika keliru maka seluruh bangsa akan menganggung akibatnya) ; melainkan langsung oleh usernya yakni masyarakat. Jadi sekolah berusaha untuk menjadi yg terbaik dengan memberikan bukti langsung kepada masyarakat yg menilainya. Fungsi pemerintah lebih sebagai konselor atau Konsultan Pembimbing bagi sekolah dan mengembangkan sistem sekolahnya bukan Lembaga Akreditasi. Mencatat sekolah2 yg dianggap berhasil oleh masyarakat dan membantu sekolah2 yg belum dianggap berhasil.

2. Tidak ada kurikulum tunggal yg ditetapkan oleh Pemerintah pusat, Setiap sekolah diberikan kebebasan mengembangkan kurikulum sendiri sesuai dengan potensi unggul daerahnya masing2. Jadi sepertinya jika sekolah itu di terletak di Bali mungkin yg lebih di utamakan adalah kurikulum pengembangan Budaya, Seni Tari, Ukir, Pahat dan sejnisnya. Jika dikalimantan mungkin tentang Batuan berharga, Gambut, Batubara, dan Budidaya Hutan, Jika di Maluku mungkin Perikanan dan budidaya kelautan dan sejenisnya. Wow !!! Pastinya akan banyak para ahli lokal yg pandai memanfaatkan potensi daerahnya.

3. Tidak ada standar ujian negara, melain berbasiskan pada proses hasil pembelajaran dari hari ke hari dari masing-masing anak, tanpa dibandingkan melalui sistem Rangking. Jadi tujuan pembelajaran adalah untuk menjadikan anak yg terbaik sesuai bidang yg diminati dan kemampuannya sendiri-sendiri bukan untuk mengejar peringkat dalam satu kelas atau satu sekolah. (karena prinsip pendidikan adalah mencerdaskan semua anak bukan untuk Merangking mereka dari yg terpintar hingga yg terbodoh)

4. Dan yg paling mengesankan adalah tidak ada standar Nasional KECUKUPAN MINIMAL untuk Nilai masing2 pelajaran (karena tiap anak memiliki kecepatan belajar yg berbeda2 dan kemampuan berbeda untuk bidang pelajaran yg berbeda).

Yang ada justru STANDAR NASIONAL ETIKA MORAL ANAK. Jadi setiap sekolah wajib mendidik setiap murid mereka memenuhi STANDAR ETIKA MORAL NASIONAL sebagai Pondasi Dasar membantuk Bangsa Yang Kuat dan Cerdas.

Jadi meskipun sekolah mereka memiliki kurikulum yg berbeda2 dengan spesialisasi kecakapan Bidang yg berbeda di sesuaikan dengan potensi daerahnya masing2 Namun setiap sekolah harus bisa menjamin bahwa setiap muridnya memiliki ETIKA MORAL YG STANDAR SECARA NASIONAL.

Wah.... sepertinya kok tidak terlalu sulit ya untuk mengikuti dan menjadi Negara dengan Sistem Pendidikan Terbaik di Dunia. Tentunya jika kita mau !!
Saudara-saudara sebangsa dan setanah air,

Seandainya anak kita bersekolah dengan sistem seperti ini sudah kebayang ya akan menjadi sangat luar biasa !!!.

Bersekolah akan menjadi hal yg menarik, menyenangkan sekaligus menantang dan tidak lagi membosankan dan menekan kejiwaan anak.

Dengan adanya Etika Moral yg di Standardisasi secara Nasional pastinya tidak akan ada lagi TAWURAN MASAL PELAJAR, Genk Nero, Genk Motor, dan sejenisnya di Jalanan. Anak akan menjadi respect pada guru dan orang tua, lebih beretika di sekolah, di jalan dan dirumah.

Dengan adanya sistem yg mengedepankan kecakapan individual dan tidak ada lagi sistem ujian dengan standar soal dan jawaban yg sama pastinya tidak akan ada lagi contek mencontek.

Tiap siswa akan tampil menjadi terbaik pada bidang kecakapan masing-masing yg memang menjadi bakat dan kelebihannya dan bukan dipacu dan ditekan untuk meningkatkan nilai atau bidang yg menjadi kelemahanya dengan cara ikut Bimbll atau Les siang, malam, pagi, sore.

Sekaligus masing2 anak-anak, Guru dan Orang Tuanya gak Stress lagi oleh Momok Nasional yg bernama Ujian Nasional, karena mereka di nilai bukan dari Ujian Akhir melainkan melalui proses perkembangan belajar dan penguasaan dari hari ke hari, sekaligus mereka juga dikembangkan berdasarkan kemampuan dan kecakapan bidang masing-masing, tidak untuk di Rangking, yg bisa berakibat sangat memalukan jika mereka termasuk 10 besar dari bawah.

Berkaca pada Syed Abdul Rahman Alsagoff sang Founder Arabic School di Singapore yg mau dan bisa melakukan perubahan dengan memulainya dari dirisendiri dan sekolahnya sendiri, kitapun mestinya bisa melakukan hal yg sama di Indonesia.

Jika Singapura bisa Indonesia Pasti Bisa !!!

Jika kita mau pasti bisa !!! dan bukan sebaliknya, Jika bisa sich sebenarnya kita mau !!!!
Sumber : http://www.facebook.com/groups/324965214222802/permalink/504042512981737/